Membangun Pondasi Kepribadian pada Anak

Sabtu, 02 Mei 2009

Oleh: Endang Widiastuti

Di era sekarang ini, tantangan yang dihadapi oleh para orangtua semakin berat. Serbuan informasi yang membanjir melalui berbagai media yang sangat mudah diakses, tidak hanya memberikan dampak positif dengan semakin luasnya wawasan yang akan diperoleh anak, bila diakses secara terbimbing, namun juga memberikan ekses negative yang tidak mudah untuk dipulihkan, bila dibiarkan tanpa control dan bimbingan.



Anak – anak sekarang sangat berbeda dengan anak – anak di masa kecil kita. Dulu di jaman kita, apa – apa yang dikatakan oleh orangtua, tidak akan terbantahkan. Artinya anak – anak tidak berani membantah. Tetapi anak – anak sekarang cerdas –cerdas. Tidak mudah menjadikan anak – anak kita mentaati kita kalau kita tidak mampu memberikan pengertian yang bisa dipahami anak. Kita tidak bisa kalau hanya sekedar melarang atau memerintahkan sesuatu kalau tanpa penjelasan mengapa harus begitu. Dan itu adalah tantangan dan tugas berat kita.

Selain itu, dengan serbuan informasi yang bisa diakses dari berbagai media, harus mebuat kita ekstra waspada. Karena dampak media sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku anak – anak. Ibaratnya sekarang para orangtua harus menghadapi saingan yang berat dalam merebut perhatian, kecintaan, serta ketaatan anak. Dan itu juga tanntang kedua yang tidak kalah berat.

Lalu bagaimana seharusnya kita mendidik anak – anak kita? Apakah anak – anak harus kita isolasi secara total dari media, televise khususnya, atau bagaimana ? Kalau kita menimbang antara apakah anak – anak kita akan disterilkan dari lingkungan yang akan memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap mereka, ataukah kita paparkan sekalian dalam kenyataan yang ada dengan konsekuensi bagi kita orangtuanya untuk bekerja lebih keras dalam membimbing mereka, keduanya memiliki plus minusnya.

Kalau anak – anak kita sterilkan dari hal – hal yang berpengaruh buruk, memang akan menjadikan anak – anak tersebut bersih. Tetapi realitas sebenarnya yang akan mereka hadapi nanti dalam kehidupan nyata, tidak seperti itu. Ada yang baik dan yang buruk. Ada orang jujur, ada orang yang dusta. Ada yang dermawan, ada pula yang bakhil. Itulah realitas kehidupan. Kalau mereka tidak pernah mengetahui bahwa ada lingkungan yang tidak sama seperti yang selama ini mereka hadapi, akan membuat mereka kaget ketika mengetahu kenyataan yang sebenarnya. Selain itu, kemanakah anak – anak itu akan dibawa agar lingkungan yang mereka hadapi benar – benar steril dari keburukan?

Maka menghadapi realitas, mau tidak mau harus kita lakukan. Biarkan anak – anak tumbuh pada realitas yang semestinya dengan bimbingan kita, orangtuanya. Kita rawat dan didik mereka dengan kasih saying, dengan memilihkan lingkungan dan sekolah yang mendukung misi kita dalam mendidik anak. Namun hal yang harus senantiasa kita ingat bahwa tanggungjawab pendidikan anak tetap berada di tangan kita. Sekolah hanya bersifat membantu. Sebab orangtualah yang nanti akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT tentang pendidikan anak – anaknya.

Lalu, tema – tema apa yang harus kita tanamkan pada anak agar mereka memiliki pondasi dan benteng yang kuat agar mampu menghadapi lingkungan yang sangat heterogen ini? Untuk menjawab itu semua, tentu kita harus mengacu pada apa yang telah dilakukan Rasulullah SAW, orangtua dan murabbi teladan bagi anak – anaknya serta para sahabatnya. Tidak ada keberhasilan terbaik dalam mencetak kader berkualitas kecuali apa yang dilakukan Muhammad Rasulullah SAW. Dengan izin Allah, beliau mampu mencetak pedagang menjadi pejuang, algojo menjadi pemimpin yang zuhud, pemuda menjadi ulama, dan budak menjadi birokrat. Apa kunci keberhasilan pendidikan yang dilakukan Rasulullah SAW ?

Inilah beberapa yang menjadi titik tekan dan focus utama Rasulullah dalam mendidik putra – putri serta para sahabat sehingga mereka semua mendapatkan julukan sekaligus pujian langsung dari Allah SWT sebagai ‘ khairu ummatin ‘ atau umat terbaik.


1. Mengokohkan Bangunan Keyakinan

Rasulullah SAW mengawali pembentukan kepribadian para sahabat adalah dengan menanamkan bangunan keyakinan baru secara kokoh. Keimanan akan ke-Maha Kuasa-an Allah, keyakinan akan kebenaran Islam, dan kerinduan yang sangat besar terhadap syurga. Keyakinan semacam inilah yang membentuk orientasi dan wawasan hidup para sahabat.

Ketika bangunan keyakinan ini kuat dan terpelihara, maka militansi dalam berpegang teguh pada Islam dari para sahabat tetap membara. Sampai – sampai Khalid bin Walin begitu sedih karena harus menemui kematiannya di atas tempat tidur. Sebagai pendidik, Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan murid-muridnya akan keyakinan dan orientasi ini. Khususnya ketika para sahabat mengalami ujian dan cobaan yang sulit dalam kehidupannya. Sekali lagi, rahasia pertama adalah : keimanan yang besar terhadap Allah SWT, keyakinan yang kuat akan Islam, dan kerinduan yang dalam terhadap syurga.

Itulah pula yang harus senantiasa kita tumbuhkan dan kokohkan dalam diri anak – anak kita. Sebab kokohnya bangunan keimanan merupakan kunci, agar seluruh tuntutan – tuntutan yang harus ditunaikan berhasil dilaksanakan. Sebagai contoh, seorang anak akan mudah dituntun untuk berdo’a dalam setiap aktifitasnya ketika mereka mengetahui dan meyakini bahwa Allah akan menjawab setiap do’a. Dan keyakinan tersebut akan muncul ketika keyakinan akan keberadaan Allah dengan segala sifat – sifat agung-Nya, telah terpatri dalam dirinya.

Untuk itulah diperlukan upaya yang terus menerus untuk menyegarkan dan mengokohkan bangunan keyakinan ini. Tentu saja sarana – sarana pembelajaran yang dilakukan disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan anak. Mengenalkan tentang keberadaan Allah, dengan menjelaskan bahwa segala sesuatu di alam ini ciptaan Allah, harus dilakukan sejak dini. Dengan begitu anak akan merasakan kedekatan antara dia dengan Allah. Kalau itu sudah terjadi maka anak akan memiliki apa yang disebut “ Allah minded”.

Selain itu pengenalan terhadap Rasulullah juga harus dilakukan sejak dini. Agar tumbuh dalam diri anak – anak kecintaan terhadap Rasulullah. Dengan begitu maka anak akan mudah diarahkan untuk meneladani apa – apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Juga mengenal dan mengkaji sejarah kehidupan para nabi yang lain, para salafus-shalih dan para mujahid dakwah juga akan sangat berpengaruh terhadap kekokohan komitmen.

Sarana yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan itu sangat banyak. Dengan nyanyian, cerita, atau permainan. Sedangkan sarana – sarana audio visual yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal. Sedang untuk anak – anak yang sudah bisa diajak berdialog, maka sarana diskusi bisa dimaksimalkan. Pada waktu – waktu tertentu anak bisa diajak untuk tafakur alam, untuk melihat secara langsung kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.


2. Mendekatkan Interaksi dengan Al Qur’an

Kunci kedua adalah kuatnya interaksi langsung antara ayat – ayat Allah dengan dinamika kehidupan. Sebagaimana kita pahami bersama, dinamika kehidupan Rasulullah bersama sahabat – sahabatnya berjalan beriringan dengan turunnya ayat – ayat Al Qur’an. Sehingga bukan saja kehidupan itu berjalan di bawah bimbingan atau taujih Rabbani, tetapi juga ditandai inteaksi yang langsung dan kuat dengan Al Qur’an sebagai minhajul hayah. Inilah yang menjadi alasan Sayyid Qutb menyebut mereka sebagai Jiil-Qur’ani atau generasi Al Qur’an.

Dalam konteks kekinian, interaksi dengan Al Qur’an bukan sebatas aspek tilawah, hafalan dan pemahaman. Tetapi lebih penting pada sisi pengamalan Islam dan dakwah yang terus mengacu pada bimbingan Al Qur’an. Sepatutnyalah kita mendidik dan melatih anak – anak kita untuk melaksanakan aktifitas hariannya dengan acuan Al Qur’an serta berusaha menemukan jawaban atas persoalan – persoalan hariannya dalam Al Qur’an.

Maka kunci kedua inipun juga harus kita lakukan, kalau kita menginginkan anak – anak kita mewarisi karakter para sahabat Rasulullah SAW. Oleh karena itu, upaya untuk mendekatkan anak – anak kita dengan Al Qur’an harus dilakukan sedini mungkin. Mampu menguasai bacaan Al Qur’an dengan baik disertai tadabbur ayat dengan menggunakan Al Qur’an terjemahan, agar mereka tidak sekedar mampu membaca tetapi juga mengerti arti dan maknanya. Kemudian dilanjutkan dengan menghafal ayat – ayat keimanan khususnya juz 30, lalu ditingkatkan dengan hafalan ayat yang disesuaikan dengan tema – tema yang ditargetkan. Itu semua adalah upaya – upaya yang harus dilakukan agar pemahaman keislaman berjalan seiring dengan hafalan ayat – ayat yang berkaitan.

Hal yang juga harus disampaikan kepada anak adalah tentang kemu’jizatan Al Qur’an. Dijelaskan tentang keistimewaan Al Qur’an dibanding kitab –kitab samawi lainnya. Hal ini akan memunculkan kebanggaan terhadap Al Qur’an dalam diri anak, yang akhirnya juga memunculkan kebanggaan sebagai seorang Muslim. Tentu saja hal tersebut akan menjadikan mana’ah Islamiyah atau kekebalan Islam dalam diri anak semakin kuat. Sehingga anak – anak tidak akan goyah menghadapi upaya – upaya pihak yang ingin menjauhkan mereka dari nilai – nilai Islam.

3. Membimbing kepada Penerapan Amal

Islam adalah diinul ‘amal. Dalam arti bahwa Islam mengedepankan kebaikan amal sebagai bukti dari keimanan dan pemahaman. Selanjutnya penerapan amal justru akan mempercepat dan memperkokoh bangunan keimanan dan pemahaman terhadap Islam. Tentu saja semua ini dilakukan dengan menjaga agar setiap amal yang dilakukan dilandasi oleh keikhlasan dan.pemahaman.

Ketika arahan amal begitu kuat dalam Islam, hal ini mendorong para sahabat untuk senantiasa berkomunikasi dan berkonsultasi kepada Rasulullah SAW dalam kapasitas sebagai nabi, komandan, dan juga hakim. Dari sinilah pemahaman mereka bertambah sejalan dengan banyaknya amal. Kebaikan mereka berlipat sejalan dengan kesalahan yang diperbaiki. Keyakinan mereka menguat sejalan dengan kemenangan amal yang mereka raih. Dan akhirnya, keyakinan Islam mereka semakin kokoh karena Rasul senantiasa menjanjikan balasan surga kepada mereka yang sukses beramal shalih.


Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam mendidik umatnya. Mereka menjadi qaumun ‘amaliyyun atau orang yang senantiasa beramal. Tidak sekedar pandai berbicara tetapi juga mampu mengamalkan. Itulah yang disebut orang – orang yang memiliki integritas pribadi.

“ Dan katakanlah : “ Beramallah kamu, maka Allah dan RasulNya beserta orang – orang mu’min akan melihat amalmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada ( Allah ) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” “ ( QS At – Taubah ayat 105 ).

Maka dari itu, pendidikan yang kita lakukan pada anak – anak kita bukan sekedar untuk memberikan pelajaran atau ilmu semata, tetapi sebagai bekal anak agar mereka bisa mengamalkan ilmu mereka. Sebab seorang mukmin harus melandaskan setiap amal mereka dengan ilmu. Dan mengimani sesuatu berlandaskan ilmu tentu lebih utama dibanding orang yang tidak mendasarinya dengan ilmu.

“ Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui tentangnya. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, akan diminta pertanggungjawabannya.” ( QS Al- Isra’ ayat 36 ).
“ … niscaya Allah akan mengangkat ( derajat ) orang – orang yang beriman di antaramu dan orang – orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” ( QS Al- Mujadilah ayat 11 ).

Oleh karena itu sejak awal kita juga harus melatih anak untuk melaksanakan apa – apa yang sudah mereka ketahui seiring dengan ilmu yang mereka dapatkan. Contohnya dalam mengajarkan sholat. Kita latih anak untuk melaksanakan sholat sejak dini, seiring dengan penjelasan yang kita berikan tentang hal ihwal sholat yang disesuaikan dengan tingkat penerimaan dan pemahaman mereka. Contoh lain adalah tentang pemakaian jilbab bagi anak – anak puteri. Kita latih mereka untuk senantiasa berjilbab ketika keluar rumah sedini mungkin, juga seiring dengan penjelasan mengapa harus berjilbab sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.

Juga hal yang tidak boleh kita lupakan adalah mengenalkan, memahamkan, dan melibatkan anak – anak kita dalam proyek – proyek amal shalih atau aktivitas – aktivitas sosial. Ini akan memberikan pengaruh positif kepada mereka. Sebab tajribah maydaniyah atau pengalaman lapangan adalah cara efektif untuk mematangkan keyakinan, pemahaman dan kemampuan amal seseorang.


4. Mengedepankan Keteladanan dan Kepemimpinan yang Baik

Perilaku dan amal para pendidik, terlebih orangtua adalah cerminan dari pemahamannya. Mereka adalah teladan dalam pembicaraan dan amalan. Maka kunci keberhasilan dalam mendidik anak adalah ketika para pendidik mampu menerapkan syi’ar “ ashlih nafsaka, wad’u ghairaka” ( perbaiki dirimu, kemudian serulah orang lain ). Yang inti dari syi’ar tersebut adalah keteladanan pendidik. Misal dalam tataran memerintah, maka yang mesti dipakai adalah kata mengajak daripada kata menyuruh. Apa perbedaan kedua kata tersebut ? Kata menyuruh mengandung makna tidak adanya keterlibatan si pemberi perintah. Sedangkan kata mengajak, si pemberi perintah juga ikut terlibat atau melaksanakan apa yang diperintahkan.

Dengan begitu sangat bisa dipahami kalau para pakar pendidikan menyatakan bahwa keteladanan adalah sarana yang paling efektif dalam mendidik anak. Mereka menyatakan bahwa satu kali keteladanan lebih efektif daripada seribu kali perkataan. Maka kalau kita menginginkan anak – anak melakukan apa yang kita kehendaki, tiada jalan lain kecuali kita harus memberi mereka contoh terlebih dahulu.

Rasulullah SAW telah menampilkan keteladanan ini dalam dirinya. Sungguh, beliau adalah teladan sempurna bagi manusia. Dengan cara inilah Rasulullah sukses mengkader sahabat – sahabatnya. Islam menampilkan keteladanan sebagai sarana dakwah dan tarbiyah yang paling efektif. Sehingga Islam menetapkan system pendidikan yang kontinyu atas dasar prinsip keteladanan tersebut.

Oleh karena itu, setelah seluruh sarana dan metode pendidikan dioptimalkan dalam mendidik anak – anak, pada akhirnya harus disempurnakan dengan keteladanan dan kepemimpinan yang baik dari para pendidiknya, terutama orangtuanya. Sebab tanggungjawab pendidikan anak yang utama ada di tangan orangtuanya, meskipun secara teknis dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak.

Itulah tema – tema yang menjadi perhatian Rasulullah dalam mendidik para sahabat, sehingga mereka mampu mempersembahkan amalan – amalan terbaik mereka untuk kejayaan Islam. Tidak mengherankan kalau kemudian Allah menyematkan gelar kepada mereka sebagai “ khairu ummatin ” atau umat terbaik Dan kalau kita menginginkan anak – anak kita menjadi pewaris mereka, yaitu sebagai penerus generasi rabbani , maka mau tidak mau kita memang harus mengacu pada pola didik yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Yaitu dengan memberikan keteladanan yang baik bagi anak – anak kita. Kita tunjukkan dan buktikan komitmen kita tehadap Islam pada mereka. Bahwa kita bukan orang yang hanya pintar bicara, tetapi juga komitmen dengan apa yang kita bicarakan dan yang kita yakini.

Dengan mengacu apa yang telah dilakukan Rasulullah SAW dalam mendidik putra – putri beliau serta para sahabat, insya Allah anak – anak kita memiliki kepribadian yang kokoh serta kepercayaan diri yang kuat, yang bersumber dari nilai – nilai Al Qur’an. Dengan demikian, perkembangan kepribadian mereka akan berjalan dengan selamat dan memiliki kekebalan Islami yang akan mampu bersikap kritis terhadap hal – hal buruk yang berpotensi menggelincirkan mereka dari prinsip – prinsip Islam.

Semoga dengan kasihsayang, bimbingan, dan keteladanan kita, mampu menjadikan mereka sebagai anak – anak sholeh yang akan eksis pada jamannya serta mempu menyumbangkan potensi mereka untuk kembali meraih kejayaan Islam sebagaimana yang telah diraih oleh para salafus shaleh terdahulu. Dan dengan iringan do’a kita, semoga akhirnya anak – anak kita menjadi investasi, yang akan mendo’akan kita ketika kita sudah menghadap-Nya. Bukankah do’a anak – anak sholeh untuk orangtuanya akan dikabulkan oleh Allah SWT ?

Wallahu a’lam bishowab.

0 komentar:

  © Blogger templates Newspaper II by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP