Kewajiban Lebih Banyak dari pada waktu yang tersedia

Sabtu, 02 Mei 2009

Manusia banyak terlena dengan kesempatan yang dimiliki. Tanpa sadar mereka membiarkan waktu yang menghampiri, lewat begitu saja, tanpa diisi dengan sesuatu yang bermanfaat. Padahal waktu merupakan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Demikian besarnya perhatian Allah terhadap waktu ini sampai – sampai di banyak ayat Allah bersumpah dengan waktu. Wal ‘ashri ( demi waktu ‘ashar), wal fajri ( demi waktu fajar), wadh-dhuha ( demi waktu dhuha ), wal-laili (demi waktu malam ). Namun ironisnya, masih banyak manusia yang belum menghargai waktu. Belum memahami bahwa waktu atau kesempatan yang diberikan adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri. Mensyukuri nikmat waktu adalah dengan memanfaatkan atau mengisinya dengan suatu kebaikan.

Bagaimana mungkin manusia bisa melewatkan begitu saja waktu yang ia miliki, padahal di hadapannya terhampar begitu banyak kewajiban yang harus ditunaikan. Ada banyak kewajiban yang harus kita tunaikan dalam hidup ini. Namun secara garis besar kewajiban tersebut bisa dibagi menjadi tiga, yaitu :
Kewajiban dzatiyah, yaitu kewajiban pada diri sendiri. Kewajiban ini dilakukan untuk mendapatkan kualitas pribadi yang unggul. Yaitu untuk menjadi pribadi yang shaleh, baik secara fisik, intelektual dan spiritual. Banyak sekali hal yang harus kita tunaikan dalam memenuhi kewajiban dzatiyah ini. Belajar sepanjang hayat, menunaikan hak – hak fisik untuk mendapatkan fisik yang bersih dan sehat, melakukan perenungan akan makna hidup sehingga senantiasa mendapatkan pencerahan jiwa dari hari ke hari, sehingga shalih jiwa bisa dimiliki.
Kewajiban terhadap diri sendiri bagi seorang Muslim bukanlah sekedar upaya – upaya untuk pemenuhan kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan semata, tetapi lebih dari itu ialah pemenuhan kebutuhan manusia secara integral. Bukankah makanan, pakian, dan tempat tinggal hanyak aspek kebutuhan fisik semata? Dan bukankah manusia bukan hanya fisik semata? Ia terdiri dari unsur jasad (fisik), aql ( akal ) dan qalbu( jiwa ). Agar manusia tetap berada di jalur kemanusiaannya yang oleh Allah SWT disebut sebagai makhluk paling sempurna dan paling mulia, maka ketiga unsur tersebut harus dipenuhi kebutuhannya serta dijaga kesehatannya. Itulah inti dari adanya kewajiban dzatiyah ini.
Yang kedua adalah kewajiban kepada Allah SWT. Pemenuhan kewajiban ini berfungsi untuk menguatkan hubungan dengan Allah, sehingga setiap saat pertolongan Allah dapat diraih. Bukankah amanah hidup ini tidak ringan ? Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Dan secara fitrah, manusia mengakui bahwa dirinya lemah, sehingga ia butuh kekuatan lain di luar dirinya untuk menopang. Kalau orang –orang di luar Islam, mereka mencari sandaran dari pohon, patung, jimat, mantera, atau dari makhluk yang lain yang dianggap memilki kekuatan. Sedangkan bagi seorang Muslim sandaran itu hanyalah kepada Allah, Sang Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Segalanya.
Kewajiban ini ditunaikan untuk menggapai ridhoNya, dengan melaksanakan apa – apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa – apa yang dilarangNya. Hingga ketika kewajiban ini ditunaikan dengan baik, maka akan tercapai kedekatan antara hamba dan Penciptanya. Jika sudah dekat, bukankah Allah akan senantiasa mengabulkan permohonan hambaNya? Sehingga akhirnya kesuksesan hidup di dunia dan di akhirat dapat diraih.
Sedangkan kewajiban yang ketiga adalah kewajiban kepada sesama manusia. Kewajiban ini berfungsi untuk menata kehidupan dalam ikatan nilai dan kebaikan. Sebab dalam kehidupan ini manusia tidaklah hidup sendiri. Ia adalah makhluk sosial, yang membutuhkan kehadiran orang lain. Dan Islam sangat perhatian dengan masalah ini. Bukankah kehidupan yang harmoni dengan orang lain, tetangga misalnya, menjadi salah satu kunci kebahagiaan seseorang? Dan untuk mencapai kehidupan harmonis tersebut, Islam sudah banyak memberikan tuntunannya. Bila kewajiban ini bisa dilaksanakan dengan baik, maka inilah yang disebut sebagai terciptanya keshalehan sosial. Dan keshalehan sosial merupakan cerminan dari keshalihan individu seseorang. Maka tidak heran kalau dalam hadits – hadits Rasulullah SAW, beliau menghubungkan antara akhlak terhadap orang lain dengan keimanan seseorang.
“ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia ia memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata benar atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ketiga kewajiban di atas, maka sebagai seorang Muslim, kita harus sadar bahwa di hadapan kita terdapat degudang kewajiban yang harus ditunaikan. Kewajiban kepada kedua orangtua, kewajiban kepada anak, kewajiban suami isteri, kewajiban kepada kerabat, kepada tetangga, kepada saudara, dan kewajiban kepada manusia pada umumnya.
Semakin besar pemahaman kita terhadap kewajiban yang harus kita tunaikan, maka semakin besar pula kesadaran akan betapa kurangnya waktu yang disediakan. Hal itu akan memacu kita untuk menjadikan waktu sebagai sesuatu yang sangat berharga sehingga. Hingga akhirnya kita akan berupaya sekuat tenaga untuk tidak melewatkan waktu berlalu begitu saja, tetapi memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Rasulullah SAW bersabda :
“ Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya ; waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu.” ( HR Baihaqi dan Hakim )

Allahu a’lam bishawab.




0 komentar:

  © Blogger templates Newspaper II by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP