RUMAH, BUKAN SEKEDAR MASALAH BANGUNAN, TETAPI LEBIH PADA RASA
Jumat, 06 Desember 2013
Sebelum ini aku sempat
berpendapat bahwa memiliki rumah sendiri itu tidak begitu penting. Hal ini aku
simpulkan setelah menyaksikan sendiri kondisi salah seorang tetangga, yang
beberapa tahun yang lalu meninggal dunia, yang sampai akhir hayatnya ia belum
memiliki rumah.
Beliau seorang yang baik.
Sehari-hari beliau mengemban amanah sebagai imam masjid besar. Beliau telah
memiliki beberapa putra, semua terdidik dengan baik, dan telah dewasa serta
membentuk keluarga masing-masing dengan kehidupan yang baik pula. Beliau itu,
sebut saja pak Shaleh, sampai akhir hidupnya belum memiliki rumah sendiri.
Untuk tempat tinggal, beliau sering berpindah mengontrak sebuah rumah bersama
sang istri. Maka sepeninggal suaminya, bu Shaleh akhirnya tinggal bersama salah
satu putra atau putrinya.
Dari situlah aku berpendapat,
ternyata tanpa harus memiliki rumah sendiri, asal dimudahkan untuk memberikan
pendidikan anak dengan baik, maka itu cukup. Toh, saat meninggal, tidak
terlihat kerugian sedikit pun gara-gara tidak memiliki rumah, sebagaimana yang
aku amati pada kehidupan salah satu
tetanggaku tadi.
Pendapatku semakin diperkuat
setelah menyaksikan banyaknya bangunan-bangunan rumah tua berukuran besar yang sebagian
masih terlihat bagus dan kokoh, di sekitar tempat tinggalku.
Bangunan-bangunan itu tentulah rumah orang-orang dahulu, yang sekarang telah
meninggal serta seluruh putra – putrinya telah mandiri dan menyebar melanjutkan
kehidupan mereka masing-masing. Akhirnya rumah peninggalan orang tua tak ada
yang menempati, dan akhirnya rapuh dimakan usia.
Namun sekarang pendapatku
berubah. Bahwa memiliki rumah sendiri itu penting. Sebab sebagaimana burung,
manusia butuh tempat sebagai ‘sarang’, yaitu tempat kembali setelah karena
tugas kehidupan ia harus menjelajah ke beberapa tempat. Di ‘sarang’ itulah
segala kepenatan serta keletihan segera bisa ternetralisir.
Hal ini benar-benar aku rasakan saat ini, tepatnya
sejak beberapa waktu lalu, setelah pulang dari bepergian melewati beberapa
kota, menyusuri jalan lurus mulus, juga jalan berkelok bergelombang, jalan di
tepi pantai, serta jalan berliku di tengah hutan jati, dan jalan yang melewati lembah
dan gunung. Perjalanan tiga hari dua malam yang benar-benar menumpuk kepenatan.
Memang dalam perjalanan tersebut
tidak sepenuhnya kami di perjalanan, sebab kami juga bermalam di tempat yang
‘mirip’ rumah yaitu hotel. Namun, meski mungkin secara fasilitas dan sarananya
bahkan jauh lebih bagus dan modern, tetapi jelas suasananya tidaklah homey,
tak senyaman di rumah. Sebab tidak ada ‘ketulusan’ di hotel. Semua kena charge,
semuanya berbayar. Dari sarana dan fasilitasnya, juga senyum resepsionis dan
para pegawai mereka, semua kita dapatkan berbayar alias tidak gratis.
Maka begitu pulang kembali di
rumah, yang terasa adalah kelegaan total. Seolah seluruh kepenatan terobati,
meski kenyataannya setelah bepergian beberapa hari, kita tidak akan mungkin
langsung istirahat setiba di rumah. Namun, apapun yang akan kita lakukan,
apakah langsung merebahkan diri karena begitu capeknya, atau membenahi kondisi
rumah dulu, memberesi barang-barang bawaan, dan sebagainya, itu hak sepenuhnya
kita. Tak ada yang mengatur, dan yang
jelas apapun pilihan tindakan kita, no charge. Tak berbayar, karena di
tempat kita sendiri. Itulah titik balik
pendapatku tentang rumah.
Maka sangat bisa dipahami saat
nenekku (almh.) dulu mesti dipaksa agar mau ikut ibuku. Kalau tidak dipaksa,
nenek tidak mau meninggalkan rumahnya. Padahal beliau waktu itu sudah sepuh,
hidup sendirian lagi. Meski begitu, awalnya beliau bersikeras tidak mau ikut
anak, meninggalkan rumahnya. Kini aku paham apa yang dirasakan nenekku. Sebab
rumah adalah tempat yang paling nyaman.
Aku kini juga memahami mengapa ada
orang yang tidak mau keluar dari rumah orangtuanya, ‘sarang’ tempat ia
dibesarkan dalam naungan kasih sayang orangtua. Ia tidak betah berkarya jauh
dari rumah orangtuanya. Meski ini merupakan sikap yang tidak mandiri, dan bukan
sesuatu yang bagus untuk ditiru, tetapi apa yang dirasakan semakin memperkuat
tentang fungsi rumah sebagai tempat yang paling nyaman di dunia…hehehe.
Dan yang menjadi syarat penting
agar rumah itu menjadi ‘surga’ kita, rumah itu haruslah milik sendiri. Sebab
kalau bukan milik sendiri, apapun namanya : ngontrak, sewa, atau dipinjami
(kami 11 tahun menjadi kontraktor, alias pengontrak rumah...hehe), tetaplah
kemerdekaan tidak akan kita punyai. Rumah yang memberikan kenyamanan adalah
rumah yang di dalamnya kita tidak memiliki ketakutan akan apapun, kecuali pada
Allah SWT. Rumah yang tidak ada kekhawatiran kita akan diusir, baik oleh karena
terlambat membayar uang sewa, atau diminta kembali oleh yang meminjami. Maka
itu berarti bahwa rumah tersebut haruslah milik kita.
Lebih baik di sini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa,
semuanya ada di sini,
Rumah kita.... (sebuah lagu)
Itulah sebabnya beberapa tahun
yang lalu, bapak mertua (alm.) ‘memaksa’ suami untuk segera membeli tanah. Kata
bapak, mumpung anak-anak masih kecil, sebab jika anak-anak sudah besar, yang
akan menjadi prioritas pembiayaan adalah sekolah anak-anak, soal rumah bisa
terlupakan, hingga akhirnya sampai tua belum mampu memiliki rumah. Itulah yang
dikhawatirkan bapak mertua.
Jadi, rumah memang sesuatu yang
sangat penting bagi kehidupan manusia. Ialah yang menjadi fungsi ‘sarang’ bagi
manusia. Tempat manusia tumbuh dan berkembang, serta tempat menumbuhkembangkan
anak-anaknya. Tempat yang selalu memanggil kita saat kita meninggalkannya.
Tempat yang akan menetralisir semua polusi yang kita dapatkan dari luar rumah.
Rumah dengan seluruh isi dan penghuninya, itulah surga kita. Jadi, rumah itu
bukan sekedar bangunan, tapi lebih menyangkut masalah ‘rasa’.
Homey… Sweety….
Home sweet home....!
