Bersanding Dengan Masjid

Sabtu, 19 Maret 2016






“Jaar qabla daar”, petuah Rasulullah SAW kepada umatnya saat memilih tempat tinggal. Petuah itu bermakna lihatlah siapa yang akan menjadi tetangga kita sebelum kita menentukan bangunan rumah yang akan kita tempati. Yah, tetangga akan menjadi sesuatu yang mempengaruhi kehidupan keluarga kita. Tetangga yang shalih dikatakan oleh Rasulullah sebagai salah satu yang akan menjadikan seseorang  akan mendapatkan kebahagiaan, selain pasangan yang shalih/ah, rumah yang luas, serta kendaraan yang nyaman.

Dan diantara hal yang sangat disyukuri saat kita memilih tempat tinggal adalah ketika rumah yang akan kita tempati berdampingan dengan masjid. Sebab mendapatkan rumah yang bersanding dengan masjid, baik di sebelahnya maupun depan dan belakangnya, adalah sebuah karunia. Berarti kita akan didekatkan oleh Allah SWT dengan kebaikan. 

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut ( kepada siapapun) selain Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Attaubah : 18). 

Masjid berarti tempat untuk bersujud. Secara terminologis diartikan sebagai tempat beribadah umat Islam, khususnya dalam menegakkan shalat. Masjid sering disebut Baitullah (rumah Allah), yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah.

Fungsi Masjid paling utama adalah sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat berjama’ah. Kalau kita perhatikan, shalat berjama’ah adalah merupakan salah satu ajaran Islam yang pokok,  yang selalu dikerjakan beliau. Ajaran Rasulullah SAW tentang shalat berjama’ah merupakan perintah yang benar-benar ditekankan kepada kaum muslimin.

Abdullah Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Saya melihat semua kami (para shahabat) menghadiri jama’ah. Tiada yang ketinggalan menghadiri jama’ah, selain dari orang-orang munafiq yang telah nyata kemunafiqannya, dan sungguhlah sekarang di bawa ke Masjid dipegang lengannya oleh dua orang, seorang sebelah kanan, seorang sebelah kiri, sehingga didirikannya ke dalam shaff.” (HR: Al Jamaah selain Bukhory dan Turmudzy).

Meskipun fungsi utamanya sebagai tempat menegakkan shalat, namun masjid bukanlah hanya tempat untuk melaksanakan shalat saja. Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain dipergunakan untuk shalat, berdzikir dan beri'tikaf, masjid juga dipergunakan untuk kepentingan sosial. Misalnya, sebagai tempat belajar dan mengajarkan kebajikan (menuntut ilmu), merawat orang sakit, menyelesaikan hukum li'an dan lain sebagainya.

Dalam perjalanan sejarahnya, masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk bangunan maupun fungsi dan perannya. Hampir dapat dikatakan, dimana ada komunitas muslim di situ ada masjid. Memang umat Islam tidak bisa terlepas dari Masjid. Disamping menjadi tempat beribadah, masjid telah menjadi sarana berkumpul, menuntut ilmu, bertukar pengalaman, pusat da’wah dan lain sebagainya.

BEBERAPA FUNGSI DAN PERAN MASJID
Masjid memiliki fungsi dan peran yang dominan dalam kehidupan umat Islam, beberapa di antaranya adalah
1. Sebagai tempat beribadah 
Sesuai dengan namanya masjid adalah tempat sujud, maka fungsi utamanya adalah sebagai tempat ibadah shalat. Sebagaimana diketahui bahwa makna ibadah di dalam Islam adalah luas menyangkut segala aktivitas kehidupan yang ditujukan untuk memperoleh ridla Allah, maka fungsi  masjid disamping sebagai tempat shalat juga sebagai tempat beribadah secara luas sesuai dengan ajaran Islam.

2. Sebagai tempat menuntut ilmu 
Masjid berfungsi sebagai tempat untuk belajar mengajar,untuk ta’lim,  khususnya ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam. Disamping itu juga ilmu-ilmu lain, baik ilmu alam, sosial, humaniora, keterampilan dan lain sebagainya dapat diajarkan di masjid.

3. Sebagai tempat pembinaan jama’ah
Dengan adanya umat Islam di sekitarnya, masjid berperan dalam mengkoordinir mereka guna menyatukan potensi dan kepemimpinan umat. Selanjutnya umat yang terkoordinir secara rapi dalam organisasi Ta’mir Masjid dibina keimanan, ketakwaan, ukhuwah, dan da’wah Islamiyahnya. Sehingga masjid menjadi basis umat Islam yang kokoh.

4. Sebagai pusat da’wah dan kebudayaan Islam 
Masjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang selalu berdenyut untuk menyebarluaskan da’wah islamiyah dan budaya islami. Di Masjid pula direncanakan, diorganisasi, dikaji, dilaksanakan dan dikembangkan da’wah dan kebudayaan Islam yang menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu Masjid, berperan sebagai sentra aktivitas da’wah dan kebudayaan.

5. Sebagai pusat kaderisasi umat 
Sebagai tempat pembinaan jama’ah dan kepemimpinan umat, masjid memerlukan aktivis yang berjuang menegakkan Islam secara istiqamah dan berkesinambungan. Patah tumbuh hilang berganti. Karena itu pembinaan kader perlu dipersiapkan dan dipusatkan di masjid sejak mereka masih kecil sampai dewasa. Di antaranya dengan Taman Pendidikan Al Quraan (TPA), Remaja Masjid maupun Ta’mir Masjid beserta kegiatannya.

6. Sebagai basis Kebangkitan Umat Islam 
Abad ke-lima belas Hijriyah ini telah dicanangkan umat Islam sebagai abad kebangkitan Islam. Umat Islam yang sekian lama tertidur dan tertinggal dalam percaturan peradaban dunia berusaha untuk bangkit dengan berlandaskan nilai-nilai agamanya. Islam dikaji dan ditelaah dari berbagai aspek, baik ideologi, hukum, ekonomi, politik, budaya, sosial dan lain sebagainya. Setelah itu diupayakan untuk diaplikasikan dan dikembangkan dalam kehidupan umat, yaitu mengisi kehidupan dunia ini dengan nilai-nilai Islam. Umat Islam harus bangkit untuk memperoleh kembali kejayaan sebagaimana pernah dirasakan para pendahulu. Kebangkitan ini memerlukan peran masjid sebagai basis perjuangan. 

Dengan begitu, bertetangga atau memiliki tempat tinggal yang berdampingan atau dekat dengan masjid berarti kita bertetangga dengan rumah Allah.Ada banyak keuntungan saat rumah kita dekat dan bahkan berdampingan dengan masjid. Diantaranya :
  1. Selalu termotivasi untuk mendekat pada Allah
    Fungsi Masjid paling utama adalah sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat terutama shalat berjamaah. Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjama’ah melebihi shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajad.” (HR  Bukhori dan Muslim).Maka bila bertetangga dengan masjid minimal kita mendapatkan pelipatgandaan derajat dalam lima waktu shalat wajib saat kita disiplin mengikuti shalat berjamaah di masjid.  Selainitu, ketika program pemakmuran masjid berjalan dengan baik, dimana selain untuk sholat berjamaah, masjid  juga menjadi tempat untuk ibadah yang lain sepertidzikir,  tadarus al Qur’an, I’tikaf, serta ta’lim atau pengajian, maka kita akan selalu mendengar ajakan untuk menguatkan hubungan kita dengan Allah.
  2. Selalu mendapat semangat untuk berbuat baik dan malu bermaksiatMasjid selain berfungsi sebagai tempat ibadah, ia juga adalah pusat tersebarnya kebaikan. Di dalamnya selalu diajarkan dan dibuatkan program-program untuk tersebarnya kebaikan dan kebiasaan baik bagi jamaahnya dan lingkungan sekitarnya.Maka bertetangga dengan masjid akan memudahkan kita untuk mendapatkan semangat meningkatkan perbuatan baik yang kita lakukan, sekaligus akan membuat kita malu ketika akan berbuat maksiat atau berakhlak buruk. Mengapa demikian? Sebab kita berdekatan dengan rumah Allah. Kita akan merasakan pengawasan Allah sangat dekat sehingga akan berupaya maksimal untuk terus berbuat baik dan berupaya maksimal untuk menjauhi perbuatan buruk, demi mendapatkan ridha Allah SWT.
  3. Bertambah ilmuDalam perjalanannya, masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk bangunan maupun fungsi dan perannya.  Disamping menjadi tempat beribadah, masjid telah menjadi sarana berkumpul, menuntut ilmu, danbertukar pengalaman. Maka dengan rajin mengikuti aktifitas di masjid, maka pemahaman dan ilmu kita, baik ilmu agama maupun ilmu yang lain akan senantiasa bertambah.Dengan bertambahnya ilmu, maka semestinya akan juga menambah amalan dan menjadikan amalan makin terarah dan  terasah, serta lebih produktif.
  4. Merasakan nikmatnya  ukhuwahDengan adanya umat Islam di sekitarnya, masjid berperan dalam mengkoordinir mereka guna menyatukan potensi dan dibina keimanan, ketakwaan, ukhuwah, dan da’wah Islamiyahnya.Masjid menjadi tempat untuk menyelesaikan permasalahan –permasalahan umat, terutama jamaahnya.Sehingga jamaah akan merasakan  rasa persaudaraan yang kuat diantara mereka. Saling mengenal, lalu saling memahami, hingga  akhirnya muncul saling tolong-menolong di dalamnya.Sehingga masjid menjadi basis umat Islam yang kokoh
  5. Memiliki kepedulian terhadap umat
Oleh sebab itu, ketika kita bersanding atau bertetangga dengan masjid, maka kebaikan dan keberkahan akan didekatkan Allah kepada kita. Sebab dengan kita memahami makna serta fungsi dan peran masjid, maka ketika kita ‘melebur’ di dalamnya, maka kita akan mendapatkan sinar kebaikan dan keberkahan yang dipancarkan oleh masjid dengan seluruh aktivitas kebaikan di dalamnya.

Allahu a'lam bishawab.





Read more...

RUMAH, BUKAN SEKEDAR MASALAH BANGUNAN, TETAPI LEBIH PADA RASA

Jumat, 06 Desember 2013

        Sebelum ini aku sempat berpendapat bahwa memiliki rumah sendiri itu tidak begitu penting. Hal ini aku simpulkan setelah menyaksikan sendiri kondisi salah seorang tetangga, yang beberapa tahun yang lalu meninggal dunia, yang sampai akhir hayatnya ia belum memiliki rumah.

      Beliau seorang yang baik. Sehari-hari beliau mengemban amanah sebagai imam masjid besar. Beliau telah memiliki beberapa putra, semua terdidik dengan baik, dan telah dewasa serta membentuk keluarga masing-masing dengan kehidupan yang baik pula. Beliau itu, sebut saja pak Shaleh, sampai akhir hidupnya belum memiliki rumah sendiri. Untuk tempat tinggal, beliau sering berpindah mengontrak sebuah rumah bersama sang istri. Maka sepeninggal suaminya, bu Shaleh akhirnya tinggal bersama salah satu putra atau putrinya.

      Dari situlah aku berpendapat, ternyata tanpa harus memiliki rumah sendiri, asal dimudahkan untuk memberikan pendidikan anak dengan baik, maka itu cukup. Toh, saat meninggal, tidak terlihat kerugian sedikit pun gara-gara tidak memiliki rumah, sebagaimana yang aku amati pada  kehidupan salah satu tetanggaku tadi.

     Pendapatku semakin diperkuat setelah menyaksikan banyaknya bangunan-bangunan rumah tua berukuran besar  yang sebagian  masih terlihat bagus dan kokoh, di sekitar tempat tinggalku. Bangunan-bangunan itu tentulah rumah orang-orang dahulu, yang sekarang telah meninggal serta seluruh putra – putrinya telah mandiri dan menyebar melanjutkan kehidupan mereka masing-masing. Akhirnya rumah peninggalan orang tua tak ada yang menempati, dan akhirnya rapuh dimakan usia.

        Namun sekarang pendapatku berubah. Bahwa memiliki rumah sendiri itu penting. Sebab sebagaimana burung, manusia butuh tempat sebagai ‘sarang’, yaitu tempat kembali setelah karena tugas kehidupan ia harus menjelajah ke beberapa tempat. Di ‘sarang’ itulah segala kepenatan serta keletihan segera bisa ternetralisir.

       Hal ini  benar-benar aku rasakan saat ini, tepatnya sejak beberapa waktu lalu, setelah pulang dari bepergian melewati beberapa kota, menyusuri jalan lurus mulus, juga jalan berkelok bergelombang, jalan di tepi pantai, serta jalan berliku di tengah hutan jati, dan jalan yang melewati lembah dan gunung. Perjalanan tiga hari dua malam yang benar-benar menumpuk kepenatan.

          Memang dalam perjalanan tersebut tidak sepenuhnya kami di perjalanan, sebab kami juga bermalam di tempat yang ‘mirip’ rumah yaitu hotel. Namun, meski mungkin secara fasilitas dan sarananya bahkan jauh lebih bagus dan modern, tetapi jelas suasananya tidaklah homey, tak senyaman di rumah. Sebab tidak ada ‘ketulusan’ di hotel. Semua kena charge, semuanya berbayar. Dari sarana dan fasilitasnya, juga senyum resepsionis dan para pegawai mereka, semua kita dapatkan berbayar alias tidak gratis.

       Maka begitu pulang kembali di rumah, yang terasa adalah kelegaan total. Seolah seluruh kepenatan terobati, meski kenyataannya setelah bepergian beberapa hari, kita tidak akan mungkin langsung istirahat setiba di rumah. Namun, apapun yang akan kita lakukan, apakah langsung merebahkan diri karena begitu capeknya, atau membenahi kondisi rumah dulu, memberesi barang-barang bawaan, dan sebagainya, itu hak sepenuhnya kita. Tak  ada yang mengatur, dan yang jelas apapun pilihan tindakan kita, no charge. Tak berbayar, karena di tempat kita sendiri.  Itulah titik balik pendapatku tentang rumah.

         Maka sangat bisa dipahami saat nenekku (almh.) dulu mesti dipaksa agar mau ikut ibuku. Kalau tidak dipaksa, nenek tidak mau meninggalkan rumahnya. Padahal beliau waktu itu sudah sepuh, hidup sendirian lagi. Meski begitu, awalnya beliau bersikeras tidak mau ikut anak, meninggalkan rumahnya. Kini aku paham apa yang dirasakan nenekku. Sebab rumah adalah tempat yang paling nyaman.

         Aku kini juga memahami mengapa ada orang yang tidak mau keluar dari rumah orangtuanya, ‘sarang’ tempat ia dibesarkan dalam naungan kasih sayang orangtua. Ia tidak betah berkarya jauh dari rumah orangtuanya. Meski ini merupakan sikap yang tidak mandiri, dan bukan sesuatu yang bagus untuk ditiru, tetapi apa yang dirasakan semakin memperkuat tentang fungsi rumah sebagai tempat yang paling nyaman di dunia…hehehe.

         Dan yang menjadi syarat penting agar rumah itu menjadi ‘surga’ kita, rumah itu haruslah milik sendiri. Sebab kalau bukan milik sendiri, apapun namanya : ngontrak, sewa, atau dipinjami (kami 11 tahun menjadi kontraktor, alias pengontrak rumah...hehe), tetaplah kemerdekaan tidak akan kita punyai. Rumah yang memberikan kenyamanan adalah rumah yang di dalamnya kita tidak memiliki ketakutan akan apapun, kecuali pada Allah SWT. Rumah yang tidak ada kekhawatiran kita akan diusir, baik oleh karena terlambat membayar uang sewa, atau diminta kembali oleh yang meminjami. Maka itu berarti bahwa rumah tersebut haruslah milik kita.

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa,
semuanya ada di sini,
Rumah kita.... (sebuah lagu)

         Itulah sebabnya beberapa tahun yang lalu, bapak mertua (alm.) ‘memaksa’ suami untuk segera membeli tanah. Kata bapak, mumpung anak-anak masih kecil, sebab jika anak-anak sudah besar, yang akan menjadi prioritas pembiayaan adalah sekolah anak-anak, soal rumah bisa terlupakan, hingga akhirnya sampai tua belum mampu memiliki rumah. Itulah yang dikhawatirkan bapak mertua.

       Jadi, rumah memang sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Ialah yang menjadi fungsi ‘sarang’ bagi manusia. Tempat manusia tumbuh dan berkembang, serta tempat menumbuhkembangkan anak-anaknya. Tempat yang selalu memanggil kita saat kita meninggalkannya. Tempat yang akan menetralisir semua polusi yang kita dapatkan dari luar rumah. Rumah dengan seluruh isi dan penghuninya, itulah surga kita. Jadi, rumah itu bukan sekedar bangunan, tapi lebih menyangkut masalah ‘rasa’. 
         Homey… Sweety…. Home sweet home....!
   

Read more...

KELUARGA SAKINAH, MAWADDAH, WA RAHMAH

Sabtu, 21 September 2013

        Setiap kali kita berbicara tentang keluarga bahagia, selalu mengkaitkan dengan istilah sakinah, mawadah, wa rahmah. Tiga kata yang acap diringkas dengan sebutan Keluarga SAMARA. Sebenarnya apa makna sakinah, mawadah dan rahmah? Bagaimana pula ciri keluarga yang dikatakan sakinah?    

        Sebagaimana diketahui, kata sakinah, mawadah dan rahmah itu diambil dari firman Tuhan: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar Rum : 21).

Makna Sakinah

        Kata sakinah berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, kata sakinah mengandung makna tenang, tenteram, damai, terhormat, aman, nyaman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, dan memperoleh pembelaan. Dengan demikian keluarga sakinah berarti keluarga yang semua anggotanya merasakan ketenangan, kedamaian, keamanan, ketenteraman, perlindungan, kebahagiaan, keberkahan, dan penghargaan.

        Kata sakinah juga sudah diserap menjadi bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sakinah bermakna kedamaian; ketenteraman; ketenangan; kebahagiaan.

Makna Mawaddah

         Kata mawaddah juga berasal dari bahasa Arab. Mawaddah adalah jenis cinta membara, perasaan cinta dan kasih sayang yang menggebu kepada pasangan jenisnya. Mawaddah adalah perasaan cinta yang muncul dengan dorongan nafsu kepada pasangan jenisnya, atau muncul karena adanya sebab-sebab yang bercorak fisik. Seperti cinta yang muncul karena kecantikan, ketampanan, kemolekan dan kemulusan fisik, tubuh yang seksi; atau muncul karena harta benda, kedudukan, pangkat, dan lain sebagainya.

         Biasanya mawaddah muncul pada pasangan muda atau pasangan yang baru menikah, dimana corak fisik masih sangat kuat. Alasan-alasan fisik masih sangat dominan pada pasangan yang baru menikah. Kontak fisik juga sangat kuat mewarnai pasangan muda.

         Misalnya ketika seorang lelaki ditanya, “Mengapa anda menikah dengan perempuan itu, bukan dengan yang lainnya?” Jika jawabannya adalah, “Karena ia cantik, seksi, kulitnya bersih”, dan lain sebagainya yang bercorak sebab fisik, itulah mawaddah. Demikian pula ketika seorang perempuan ditanya, “Mengapa anda menikah dengan lelaki itu, bukan dengan yang lainnya ?” Jika jawabannya adalah, “Karena ia tampan, macho, kaya”, dan lain sebagainya yang bercorak sebab fisik, itulah yang disebut mawaddah.

          Kata mawaddah juga sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, menjadi mawadah (dengan satu huruf d). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mawadah bermakna kasih sayang. 

Makna Rahmah

          Rahmah berasal dari bahasa Arab. yang berarti ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih, juga rejeki. Rahmah merupakan jenis cinta dan kasih sayang yang lembut, terpancar dari kedalaman hati yang tulus, siap berkorban, siap melindungi yang dicintai, tanpa pamrih “sebab”. Bisa dikatakan rahmah adalah perasaan cinta dan kasih sayang yang sudah berada di luar batas-batas sebab yang bercorak fisik.

          Biasanya rahmah muncul pada pasangan yang sudah lama berkeluarga, dimana tautan hati dan perasaan sudah sangat kuat, saling membutuhkan, saling memberi, saling menerima, saling memahami. Corak fisik sudah tidak dominan.

          Misalnya seorang kakek yang berusia 80 tahun hidup rukun, tenang dan harmonis dengan isterinya yang berusia 75 tahun. Ketika ditanya, “Mengapa kakek masih mencintai nenek pada umur setua ini?” Tidak mungkin dijawab dengan, “Karena nenekmu cantik, seksi, genit”, dan seterusnya, karena si nenek sudah ompong dan kulitnya berkeriput. Demikian pula ketika nenek ditanya, “Mengapa nenek masih mencintai kakek pada umur setua ini?” Tidak akan dijawab dengan, “Karena kakekmu cakep, jantan, macho, perkasa”, dan lain sebagainya; karena si kakek sudah udzur dan sering sakit-sakitan. Rasa cinta dan kasih sayang antara kakek dan nenek itu bahkan sudah berada di luar batas-batas sebab. Mereka tidak bisa menjelaskan lagi “mengapa dan sebab apa” masih saling mencintai.

           Kata rahmah diserap dalam bahasa Indonesia menjadi rahmat (dengan huruf t). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata rahmah atau rahmat bermakna belas kasih; kerahiman; karunia (Allah); dan berkah (Allah).

Ciri Keluarga Sakinah

           Saya sering membuat ciri yang sederhana, kapan keluarga anda disebut keluarga sakinah. Misalnya seorang suami bekerja di luar rumah, dan pulang ke rumah setiap sore jam 17.00. Jika suami ini merasa tenang, damai, nyaman, tenteram saat semakin dekat ke rumah, maka ia memiliki perasaan sakinah. Namun jika setiap kali mau pulang, semakin dekat ke rumah hatinya semakin gelisah, tidak nyaman, enggan pulang karena tidak tenang, maka sangat dipertanyakan dimana rasa sakinahnya.

           Demikian pula saat isteri di rumah, ia mengetahui bahwa setiap jam 17.00 suaminya pulang ke rumah. Jika semakin dekat dengan jam kepulangan suami, hatinya semakin bahagia, tenang dan tenteram, maka ia memiliki perasaan sakinah. Namun jika semakin dekat dengan jam kepulangan suami hatinya berdegup kencang, tidak tenang, takut dan gelisah, maka sangat dipertanyakan dimana sakinahnya. Apalagi jika si isteri berdoa “Semoga suamiku tidak jadi pulang, semoga suamiku dapat tugas lembur lagi sampai bulan depan”; atau bahkan “Semoga suamiku kecelakaan dan meninggal dunia”, maka sakinah sudah tidak ada lagi.

           Keluarga sakinah memiliki suasana yang damai, tenang, tenteram, aman, nyaman, sejuk, penuh cinta, kasih dan sayang. Keluarga yang saling menerima, saling memberi, saling memahami, saling membutuhkan. Keluarga yang saling menasihati, saling menjaga, saling melindungi, saling berbaik sangka. Keluarga yang saling memaafkan, saling mengalah, saling menguatkan dalam kebaikan, saling mencintai, saling merindukan, saling mengasihi. Keluarga yang diliputi oleh suasana jiwa penuh kesyukuran, terjauhkan dari penyelewengan dan kerusakan.

           Semoga kita semua mendapatkan dan memiliki keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. God bless us. 



Oleh : Cahyadi Takariawan 

(http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/03/keluarga-sakinah-mawaddah-wa-rahmah-415568.html)

Read more...

Kewajiban Lebih Banyak dari pada waktu yang tersedia

Sabtu, 02 Mei 2009

Manusia banyak terlena dengan kesempatan yang dimiliki. Tanpa sadar mereka membiarkan waktu yang menghampiri, lewat begitu saja, tanpa diisi dengan sesuatu yang bermanfaat. Padahal waktu merupakan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Demikian besarnya perhatian Allah terhadap waktu ini sampai – sampai di banyak ayat Allah bersumpah dengan waktu. Wal ‘ashri ( demi waktu ‘ashar), wal fajri ( demi waktu fajar), wadh-dhuha ( demi waktu dhuha ), wal-laili (demi waktu malam ). Namun ironisnya, masih banyak manusia yang belum menghargai waktu. Belum memahami bahwa waktu atau kesempatan yang diberikan adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri. Mensyukuri nikmat waktu adalah dengan memanfaatkan atau mengisinya dengan suatu kebaikan.

Bagaimana mungkin manusia bisa melewatkan begitu saja waktu yang ia miliki, padahal di hadapannya terhampar begitu banyak kewajiban yang harus ditunaikan. Ada banyak kewajiban yang harus kita tunaikan dalam hidup ini. Namun secara garis besar kewajiban tersebut bisa dibagi menjadi tiga, yaitu :
Kewajiban dzatiyah, yaitu kewajiban pada diri sendiri. Kewajiban ini dilakukan untuk mendapatkan kualitas pribadi yang unggul. Yaitu untuk menjadi pribadi yang shaleh, baik secara fisik, intelektual dan spiritual. Banyak sekali hal yang harus kita tunaikan dalam memenuhi kewajiban dzatiyah ini. Belajar sepanjang hayat, menunaikan hak – hak fisik untuk mendapatkan fisik yang bersih dan sehat, melakukan perenungan akan makna hidup sehingga senantiasa mendapatkan pencerahan jiwa dari hari ke hari, sehingga shalih jiwa bisa dimiliki.
Kewajiban terhadap diri sendiri bagi seorang Muslim bukanlah sekedar upaya – upaya untuk pemenuhan kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan semata, tetapi lebih dari itu ialah pemenuhan kebutuhan manusia secara integral. Bukankah makanan, pakian, dan tempat tinggal hanyak aspek kebutuhan fisik semata? Dan bukankah manusia bukan hanya fisik semata? Ia terdiri dari unsur jasad (fisik), aql ( akal ) dan qalbu( jiwa ). Agar manusia tetap berada di jalur kemanusiaannya yang oleh Allah SWT disebut sebagai makhluk paling sempurna dan paling mulia, maka ketiga unsur tersebut harus dipenuhi kebutuhannya serta dijaga kesehatannya. Itulah inti dari adanya kewajiban dzatiyah ini.
Yang kedua adalah kewajiban kepada Allah SWT. Pemenuhan kewajiban ini berfungsi untuk menguatkan hubungan dengan Allah, sehingga setiap saat pertolongan Allah dapat diraih. Bukankah amanah hidup ini tidak ringan ? Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Dan secara fitrah, manusia mengakui bahwa dirinya lemah, sehingga ia butuh kekuatan lain di luar dirinya untuk menopang. Kalau orang –orang di luar Islam, mereka mencari sandaran dari pohon, patung, jimat, mantera, atau dari makhluk yang lain yang dianggap memilki kekuatan. Sedangkan bagi seorang Muslim sandaran itu hanyalah kepada Allah, Sang Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Segalanya.
Kewajiban ini ditunaikan untuk menggapai ridhoNya, dengan melaksanakan apa – apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa – apa yang dilarangNya. Hingga ketika kewajiban ini ditunaikan dengan baik, maka akan tercapai kedekatan antara hamba dan Penciptanya. Jika sudah dekat, bukankah Allah akan senantiasa mengabulkan permohonan hambaNya? Sehingga akhirnya kesuksesan hidup di dunia dan di akhirat dapat diraih.
Sedangkan kewajiban yang ketiga adalah kewajiban kepada sesama manusia. Kewajiban ini berfungsi untuk menata kehidupan dalam ikatan nilai dan kebaikan. Sebab dalam kehidupan ini manusia tidaklah hidup sendiri. Ia adalah makhluk sosial, yang membutuhkan kehadiran orang lain. Dan Islam sangat perhatian dengan masalah ini. Bukankah kehidupan yang harmoni dengan orang lain, tetangga misalnya, menjadi salah satu kunci kebahagiaan seseorang? Dan untuk mencapai kehidupan harmonis tersebut, Islam sudah banyak memberikan tuntunannya. Bila kewajiban ini bisa dilaksanakan dengan baik, maka inilah yang disebut sebagai terciptanya keshalehan sosial. Dan keshalehan sosial merupakan cerminan dari keshalihan individu seseorang. Maka tidak heran kalau dalam hadits – hadits Rasulullah SAW, beliau menghubungkan antara akhlak terhadap orang lain dengan keimanan seseorang.
“ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia ia memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata benar atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ketiga kewajiban di atas, maka sebagai seorang Muslim, kita harus sadar bahwa di hadapan kita terdapat degudang kewajiban yang harus ditunaikan. Kewajiban kepada kedua orangtua, kewajiban kepada anak, kewajiban suami isteri, kewajiban kepada kerabat, kepada tetangga, kepada saudara, dan kewajiban kepada manusia pada umumnya.
Semakin besar pemahaman kita terhadap kewajiban yang harus kita tunaikan, maka semakin besar pula kesadaran akan betapa kurangnya waktu yang disediakan. Hal itu akan memacu kita untuk menjadikan waktu sebagai sesuatu yang sangat berharga sehingga. Hingga akhirnya kita akan berupaya sekuat tenaga untuk tidak melewatkan waktu berlalu begitu saja, tetapi memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Rasulullah SAW bersabda :
“ Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya ; waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu.” ( HR Baihaqi dan Hakim )

Allahu a’lam bishawab.




Read more...

Relasi Gender Dalam Islam

Bulan April seolah sudah ditahbiskan oleh perempuan Indonesia sebagai bulan untuk menyuarakan tuntutan kesetaraan. Dan isu yang tak pernah lekang adalah tentang tuntutan untuk tidak adanya pembedaan peran antara laki – laki dan perempuan baik di ranah public maupun domestic. Kesetaraan gender, peran ganda wanita, emansipasi, dan sebagainya, menjadi isu yang seolah tak berkesudahan. Di ranah public, mereka menuntut adanya kesetaraan hak walau kadang juga meradang ketika dituntut dengan kesetaraan kewajiban. Di ranah domestic, para perempuan juga menuntut agar laki – laki pun dikenai kewajiban yang sama. Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Islam terkait dengan relasi antara laki-laki dan perempuan?

Islam dalam memperbincangkan masalah kedudukan laki – laki dan perempuan berpijak pada penciptaan alam semesta. Bahwa berpasangan dalam struktur alam merupakan cirri khas makhluk. Dan ini bertolak belakang dengan keesaan yang menjadi kekhususan Allah SWT.
“ dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” ( Adz-Dzariyat : 49)

Jadi keberadaan dua jenis manusia,-yang merupakan bagian dari alam raya- adalah suatu ketetapan dari Allah SWT. Adanya dua jenis berarti memang keduanya tidaklah sama. Bahwa keduanya adalah berbeda, dan tidak bisa disamakan. Tentu perbedaan keduanya yang merupakan proses penciptaan Allah, alias dari sononya, memiliki tugas dan kewajiban yang berbeda, yang disesuaikan dengan kondisi penciptaan tersebut.
Laki – laki diberikan tugas untuk memimpin dan memberi nafkah, yang itu sesuai dengan fitrah dan potensi yang Allah berikan padanya yaitu dengan struktur tubuh yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan – tantangan keras yang ditemui dalam menjalankan amanah tersebut.Sedangkan perempuan, dengan struktur tubuh yang demikian khas baik fisik maupun perasaan, yang berbeda dengan laki – laki, diberi amanah untuk mengandung maupun menyusui, serta mengawal lebih banyak proses tumbuh kembang anak.
Perbedaan ini bukan merupakan perendahan atau penindasan satu terhadap yang lain, tetapi ini adalah satu kehendak Allah sebagai satu bagian dari pemeliharaan Dia akan keseimbangan di alam semesta ini. Meskipun memiliki perbedaan biologis, masyarakat manusia merupakan kesatuan esensidan merupakan pasangan bagi yang lainnya.
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An Nisaa’ ayat 1)

Maksud ‘dari padanya’ dari ayat di atas menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
Kesetaraan antar manusia merupakan bagian integral dari konsep Islam tentang keadilan. Tidak ada keistimewaan bagi sebagian manusia atas sebagian yang lain. Laki – laki tidaklah istimewa karena kelelakiannnya dan perempuan tidak istimewa karena keperempuanannya.
Laki – laki dan perempuan sederajat dalam hak keagamaan, etika, serta tugas dan kewajiban. Begityu juga perbedaan etnis, ras, bangsa, kekayaan, dan sejumlah atribut duniawi, tidak menyebabkan keistimewaan pada seseorang, kecuali dengan ketaqwaannya.Mereka memiliki hak dan kedudukan yang sama, walau tidak serupa, yang tercermin dalam nilai kemanusiaan dan persamaan dalam tanggungjawab dan balasan
Maeskipun demikian, dalam Islam, peran yang berbeda itu dipandang saling melengkapi, bukan untuk saling bersaing. Itulah makna dari konsep keberpasangan penciptaan manusia, bahkan alam lainnya. Gagasan berpasangan itu sendiri mengandung arti untuk saling berhubungan dan melengkapi. Berpasangan harus dipahami sebagai kesatuan dari du bagian yang secara internal memiliki perbedaan – perbedaan unik yang saling bergantung satu sama lain.
Realitas tersebut justru memastikan adanya kekhasan masing – masing dan kebutuhan akan pasangan untuk mencapai kesempurnaan penciptaan dan terbentuknya kehidupan yang harmonis. Setiap manusia harus belajar dan tumbuh secara utuh sesuai dengan kodrat gendernya. Laki-laki harus belajar dan tumbuh menjadi laki – laki yang utuh, dan perempuan juga harus belajar dan tumbuh menjadi perempuan yang utuh.
Perilaku, sikap, peran, dan aktivitas yang dipelajari itulah yang membentuk identitas dan peran gender. Peran gender laki – laki dan perempuan berbeda dalam masyarakat yang juga berbeda. Pada umumnya perbedaan itu disebabkan adanya perbedaan budaya dan keyakinan, serta interaksi individu atau komunitas dengan budaya dan keyakinannya.
Setiap pasangan yang memiliki sejumlah identitas gender serta karakter dasar fisik dan psikis yang khas, baik pada laki – laki maupun perempuan, adalah untuk saling mengenal dan melengkapi, bukan untuk saling bersaing apalagi bermusuhan atau saling meniadakan fungsi. Atas dasar itu pada hakekatnya setiap manusia membutuhkan interelasi yang harmonis dengan sesamanya, lebih – lebih dengan pasangannya, baik posisinya sebagai laki - laki maupun sebagai perempuan. Interelasi harmonis hanya mungkin dapat diwujudkan apabila yang dijadikan landasan adalah keadilan yang berakar dari keadilan Ilahiyah dalam penciptaan. Dengan kesadaran bahwa manusia diciptan Allah SWT dengan membawa tugas membangun peradaban secara bersama – sama dan dengan peran khas masing- masing. Maka relasi yang demikian akan menjadikan relasi gender yang harmonis dapat diwujudkan.
Para ulama menilai pengangkatan manusia sebagai khalifahNya di bumi, yang tidak membedakan laki – laki dan perempuan merupakan dasar integralisme laki – laki dan perempuan dalam kaitannya dengan kekuasaan dan jalinan iman dalam kerangka umat, serta dalam kerangka pembangunan peradaban. Untuk itu segala bentuk diskriminasi, subordinasi, dan marginalisasi, baik terhadap laki – laki maupun terhadap perempuan, tidak dibenarkan. Bahkan mereka memiliki akses, kesempatan untuk berpartisipasi sesuai dengan peran khasnya masing – masing, serta kontrol atas berbagai kebijakan public dan jalannya pembangunan bangsa. Masing – masing memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.
Memiliki akses dan kesempatan berpartisipasi berarti laki – laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan sumber dayanya dalam pembangunan peradaban dan dapat menikmati anugerah sumber daya alam dengan sempurna.
Konsep relasi gender dalam Islam tidak lepas dari upaya mengatur hubungan itu dengan keadilan gender dalam keluarga, masyarakat, atau Negara. Tetapi secara teologis, pengaturan pola relasi manusia dengan Allah SWT, alam, dan sesama manusia ditujukan agar manusia benar- benar menjadi hambaNya yang sejati, menjadi manusia yang merdeka dari segala bentuk penghambaan kepada selainNya.
Wallahu a’lam bishawab.



Read more...

Membangun Pondasi Kepribadian pada Anak

Oleh: Endang Widiastuti

Di era sekarang ini, tantangan yang dihadapi oleh para orangtua semakin berat. Serbuan informasi yang membanjir melalui berbagai media yang sangat mudah diakses, tidak hanya memberikan dampak positif dengan semakin luasnya wawasan yang akan diperoleh anak, bila diakses secara terbimbing, namun juga memberikan ekses negative yang tidak mudah untuk dipulihkan, bila dibiarkan tanpa control dan bimbingan.



Anak – anak sekarang sangat berbeda dengan anak – anak di masa kecil kita. Dulu di jaman kita, apa – apa yang dikatakan oleh orangtua, tidak akan terbantahkan. Artinya anak – anak tidak berani membantah. Tetapi anak – anak sekarang cerdas –cerdas. Tidak mudah menjadikan anak – anak kita mentaati kita kalau kita tidak mampu memberikan pengertian yang bisa dipahami anak. Kita tidak bisa kalau hanya sekedar melarang atau memerintahkan sesuatu kalau tanpa penjelasan mengapa harus begitu. Dan itu adalah tantangan dan tugas berat kita.

Selain itu, dengan serbuan informasi yang bisa diakses dari berbagai media, harus mebuat kita ekstra waspada. Karena dampak media sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku anak – anak. Ibaratnya sekarang para orangtua harus menghadapi saingan yang berat dalam merebut perhatian, kecintaan, serta ketaatan anak. Dan itu juga tanntang kedua yang tidak kalah berat.

Lalu bagaimana seharusnya kita mendidik anak – anak kita? Apakah anak – anak harus kita isolasi secara total dari media, televise khususnya, atau bagaimana ? Kalau kita menimbang antara apakah anak – anak kita akan disterilkan dari lingkungan yang akan memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap mereka, ataukah kita paparkan sekalian dalam kenyataan yang ada dengan konsekuensi bagi kita orangtuanya untuk bekerja lebih keras dalam membimbing mereka, keduanya memiliki plus minusnya.

Kalau anak – anak kita sterilkan dari hal – hal yang berpengaruh buruk, memang akan menjadikan anak – anak tersebut bersih. Tetapi realitas sebenarnya yang akan mereka hadapi nanti dalam kehidupan nyata, tidak seperti itu. Ada yang baik dan yang buruk. Ada orang jujur, ada orang yang dusta. Ada yang dermawan, ada pula yang bakhil. Itulah realitas kehidupan. Kalau mereka tidak pernah mengetahui bahwa ada lingkungan yang tidak sama seperti yang selama ini mereka hadapi, akan membuat mereka kaget ketika mengetahu kenyataan yang sebenarnya. Selain itu, kemanakah anak – anak itu akan dibawa agar lingkungan yang mereka hadapi benar – benar steril dari keburukan?

Maka menghadapi realitas, mau tidak mau harus kita lakukan. Biarkan anak – anak tumbuh pada realitas yang semestinya dengan bimbingan kita, orangtuanya. Kita rawat dan didik mereka dengan kasih saying, dengan memilihkan lingkungan dan sekolah yang mendukung misi kita dalam mendidik anak. Namun hal yang harus senantiasa kita ingat bahwa tanggungjawab pendidikan anak tetap berada di tangan kita. Sekolah hanya bersifat membantu. Sebab orangtualah yang nanti akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT tentang pendidikan anak – anaknya.

Lalu, tema – tema apa yang harus kita tanamkan pada anak agar mereka memiliki pondasi dan benteng yang kuat agar mampu menghadapi lingkungan yang sangat heterogen ini? Untuk menjawab itu semua, tentu kita harus mengacu pada apa yang telah dilakukan Rasulullah SAW, orangtua dan murabbi teladan bagi anak – anaknya serta para sahabatnya. Tidak ada keberhasilan terbaik dalam mencetak kader berkualitas kecuali apa yang dilakukan Muhammad Rasulullah SAW. Dengan izin Allah, beliau mampu mencetak pedagang menjadi pejuang, algojo menjadi pemimpin yang zuhud, pemuda menjadi ulama, dan budak menjadi birokrat. Apa kunci keberhasilan pendidikan yang dilakukan Rasulullah SAW ?

Inilah beberapa yang menjadi titik tekan dan focus utama Rasulullah dalam mendidik putra – putri serta para sahabat sehingga mereka semua mendapatkan julukan sekaligus pujian langsung dari Allah SWT sebagai ‘ khairu ummatin ‘ atau umat terbaik.


1. Mengokohkan Bangunan Keyakinan

Rasulullah SAW mengawali pembentukan kepribadian para sahabat adalah dengan menanamkan bangunan keyakinan baru secara kokoh. Keimanan akan ke-Maha Kuasa-an Allah, keyakinan akan kebenaran Islam, dan kerinduan yang sangat besar terhadap syurga. Keyakinan semacam inilah yang membentuk orientasi dan wawasan hidup para sahabat.

Ketika bangunan keyakinan ini kuat dan terpelihara, maka militansi dalam berpegang teguh pada Islam dari para sahabat tetap membara. Sampai – sampai Khalid bin Walin begitu sedih karena harus menemui kematiannya di atas tempat tidur. Sebagai pendidik, Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan murid-muridnya akan keyakinan dan orientasi ini. Khususnya ketika para sahabat mengalami ujian dan cobaan yang sulit dalam kehidupannya. Sekali lagi, rahasia pertama adalah : keimanan yang besar terhadap Allah SWT, keyakinan yang kuat akan Islam, dan kerinduan yang dalam terhadap syurga.

Itulah pula yang harus senantiasa kita tumbuhkan dan kokohkan dalam diri anak – anak kita. Sebab kokohnya bangunan keimanan merupakan kunci, agar seluruh tuntutan – tuntutan yang harus ditunaikan berhasil dilaksanakan. Sebagai contoh, seorang anak akan mudah dituntun untuk berdo’a dalam setiap aktifitasnya ketika mereka mengetahui dan meyakini bahwa Allah akan menjawab setiap do’a. Dan keyakinan tersebut akan muncul ketika keyakinan akan keberadaan Allah dengan segala sifat – sifat agung-Nya, telah terpatri dalam dirinya.

Untuk itulah diperlukan upaya yang terus menerus untuk menyegarkan dan mengokohkan bangunan keyakinan ini. Tentu saja sarana – sarana pembelajaran yang dilakukan disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan anak. Mengenalkan tentang keberadaan Allah, dengan menjelaskan bahwa segala sesuatu di alam ini ciptaan Allah, harus dilakukan sejak dini. Dengan begitu anak akan merasakan kedekatan antara dia dengan Allah. Kalau itu sudah terjadi maka anak akan memiliki apa yang disebut “ Allah minded”.

Selain itu pengenalan terhadap Rasulullah juga harus dilakukan sejak dini. Agar tumbuh dalam diri anak – anak kecintaan terhadap Rasulullah. Dengan begitu maka anak akan mudah diarahkan untuk meneladani apa – apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Juga mengenal dan mengkaji sejarah kehidupan para nabi yang lain, para salafus-shalih dan para mujahid dakwah juga akan sangat berpengaruh terhadap kekokohan komitmen.

Sarana yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan itu sangat banyak. Dengan nyanyian, cerita, atau permainan. Sedangkan sarana – sarana audio visual yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal. Sedang untuk anak – anak yang sudah bisa diajak berdialog, maka sarana diskusi bisa dimaksimalkan. Pada waktu – waktu tertentu anak bisa diajak untuk tafakur alam, untuk melihat secara langsung kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.


2. Mendekatkan Interaksi dengan Al Qur’an

Kunci kedua adalah kuatnya interaksi langsung antara ayat – ayat Allah dengan dinamika kehidupan. Sebagaimana kita pahami bersama, dinamika kehidupan Rasulullah bersama sahabat – sahabatnya berjalan beriringan dengan turunnya ayat – ayat Al Qur’an. Sehingga bukan saja kehidupan itu berjalan di bawah bimbingan atau taujih Rabbani, tetapi juga ditandai inteaksi yang langsung dan kuat dengan Al Qur’an sebagai minhajul hayah. Inilah yang menjadi alasan Sayyid Qutb menyebut mereka sebagai Jiil-Qur’ani atau generasi Al Qur’an.

Dalam konteks kekinian, interaksi dengan Al Qur’an bukan sebatas aspek tilawah, hafalan dan pemahaman. Tetapi lebih penting pada sisi pengamalan Islam dan dakwah yang terus mengacu pada bimbingan Al Qur’an. Sepatutnyalah kita mendidik dan melatih anak – anak kita untuk melaksanakan aktifitas hariannya dengan acuan Al Qur’an serta berusaha menemukan jawaban atas persoalan – persoalan hariannya dalam Al Qur’an.

Maka kunci kedua inipun juga harus kita lakukan, kalau kita menginginkan anak – anak kita mewarisi karakter para sahabat Rasulullah SAW. Oleh karena itu, upaya untuk mendekatkan anak – anak kita dengan Al Qur’an harus dilakukan sedini mungkin. Mampu menguasai bacaan Al Qur’an dengan baik disertai tadabbur ayat dengan menggunakan Al Qur’an terjemahan, agar mereka tidak sekedar mampu membaca tetapi juga mengerti arti dan maknanya. Kemudian dilanjutkan dengan menghafal ayat – ayat keimanan khususnya juz 30, lalu ditingkatkan dengan hafalan ayat yang disesuaikan dengan tema – tema yang ditargetkan. Itu semua adalah upaya – upaya yang harus dilakukan agar pemahaman keislaman berjalan seiring dengan hafalan ayat – ayat yang berkaitan.

Hal yang juga harus disampaikan kepada anak adalah tentang kemu’jizatan Al Qur’an. Dijelaskan tentang keistimewaan Al Qur’an dibanding kitab –kitab samawi lainnya. Hal ini akan memunculkan kebanggaan terhadap Al Qur’an dalam diri anak, yang akhirnya juga memunculkan kebanggaan sebagai seorang Muslim. Tentu saja hal tersebut akan menjadikan mana’ah Islamiyah atau kekebalan Islam dalam diri anak semakin kuat. Sehingga anak – anak tidak akan goyah menghadapi upaya – upaya pihak yang ingin menjauhkan mereka dari nilai – nilai Islam.

3. Membimbing kepada Penerapan Amal

Islam adalah diinul ‘amal. Dalam arti bahwa Islam mengedepankan kebaikan amal sebagai bukti dari keimanan dan pemahaman. Selanjutnya penerapan amal justru akan mempercepat dan memperkokoh bangunan keimanan dan pemahaman terhadap Islam. Tentu saja semua ini dilakukan dengan menjaga agar setiap amal yang dilakukan dilandasi oleh keikhlasan dan.pemahaman.

Ketika arahan amal begitu kuat dalam Islam, hal ini mendorong para sahabat untuk senantiasa berkomunikasi dan berkonsultasi kepada Rasulullah SAW dalam kapasitas sebagai nabi, komandan, dan juga hakim. Dari sinilah pemahaman mereka bertambah sejalan dengan banyaknya amal. Kebaikan mereka berlipat sejalan dengan kesalahan yang diperbaiki. Keyakinan mereka menguat sejalan dengan kemenangan amal yang mereka raih. Dan akhirnya, keyakinan Islam mereka semakin kokoh karena Rasul senantiasa menjanjikan balasan surga kepada mereka yang sukses beramal shalih.


Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam mendidik umatnya. Mereka menjadi qaumun ‘amaliyyun atau orang yang senantiasa beramal. Tidak sekedar pandai berbicara tetapi juga mampu mengamalkan. Itulah yang disebut orang – orang yang memiliki integritas pribadi.

“ Dan katakanlah : “ Beramallah kamu, maka Allah dan RasulNya beserta orang – orang mu’min akan melihat amalmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada ( Allah ) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” “ ( QS At – Taubah ayat 105 ).

Maka dari itu, pendidikan yang kita lakukan pada anak – anak kita bukan sekedar untuk memberikan pelajaran atau ilmu semata, tetapi sebagai bekal anak agar mereka bisa mengamalkan ilmu mereka. Sebab seorang mukmin harus melandaskan setiap amal mereka dengan ilmu. Dan mengimani sesuatu berlandaskan ilmu tentu lebih utama dibanding orang yang tidak mendasarinya dengan ilmu.

“ Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui tentangnya. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, akan diminta pertanggungjawabannya.” ( QS Al- Isra’ ayat 36 ).
“ … niscaya Allah akan mengangkat ( derajat ) orang – orang yang beriman di antaramu dan orang – orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” ( QS Al- Mujadilah ayat 11 ).

Oleh karena itu sejak awal kita juga harus melatih anak untuk melaksanakan apa – apa yang sudah mereka ketahui seiring dengan ilmu yang mereka dapatkan. Contohnya dalam mengajarkan sholat. Kita latih anak untuk melaksanakan sholat sejak dini, seiring dengan penjelasan yang kita berikan tentang hal ihwal sholat yang disesuaikan dengan tingkat penerimaan dan pemahaman mereka. Contoh lain adalah tentang pemakaian jilbab bagi anak – anak puteri. Kita latih mereka untuk senantiasa berjilbab ketika keluar rumah sedini mungkin, juga seiring dengan penjelasan mengapa harus berjilbab sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.

Juga hal yang tidak boleh kita lupakan adalah mengenalkan, memahamkan, dan melibatkan anak – anak kita dalam proyek – proyek amal shalih atau aktivitas – aktivitas sosial. Ini akan memberikan pengaruh positif kepada mereka. Sebab tajribah maydaniyah atau pengalaman lapangan adalah cara efektif untuk mematangkan keyakinan, pemahaman dan kemampuan amal seseorang.


4. Mengedepankan Keteladanan dan Kepemimpinan yang Baik

Perilaku dan amal para pendidik, terlebih orangtua adalah cerminan dari pemahamannya. Mereka adalah teladan dalam pembicaraan dan amalan. Maka kunci keberhasilan dalam mendidik anak adalah ketika para pendidik mampu menerapkan syi’ar “ ashlih nafsaka, wad’u ghairaka” ( perbaiki dirimu, kemudian serulah orang lain ). Yang inti dari syi’ar tersebut adalah keteladanan pendidik. Misal dalam tataran memerintah, maka yang mesti dipakai adalah kata mengajak daripada kata menyuruh. Apa perbedaan kedua kata tersebut ? Kata menyuruh mengandung makna tidak adanya keterlibatan si pemberi perintah. Sedangkan kata mengajak, si pemberi perintah juga ikut terlibat atau melaksanakan apa yang diperintahkan.

Dengan begitu sangat bisa dipahami kalau para pakar pendidikan menyatakan bahwa keteladanan adalah sarana yang paling efektif dalam mendidik anak. Mereka menyatakan bahwa satu kali keteladanan lebih efektif daripada seribu kali perkataan. Maka kalau kita menginginkan anak – anak melakukan apa yang kita kehendaki, tiada jalan lain kecuali kita harus memberi mereka contoh terlebih dahulu.

Rasulullah SAW telah menampilkan keteladanan ini dalam dirinya. Sungguh, beliau adalah teladan sempurna bagi manusia. Dengan cara inilah Rasulullah sukses mengkader sahabat – sahabatnya. Islam menampilkan keteladanan sebagai sarana dakwah dan tarbiyah yang paling efektif. Sehingga Islam menetapkan system pendidikan yang kontinyu atas dasar prinsip keteladanan tersebut.

Oleh karena itu, setelah seluruh sarana dan metode pendidikan dioptimalkan dalam mendidik anak – anak, pada akhirnya harus disempurnakan dengan keteladanan dan kepemimpinan yang baik dari para pendidiknya, terutama orangtuanya. Sebab tanggungjawab pendidikan anak yang utama ada di tangan orangtuanya, meskipun secara teknis dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak.

Itulah tema – tema yang menjadi perhatian Rasulullah dalam mendidik para sahabat, sehingga mereka mampu mempersembahkan amalan – amalan terbaik mereka untuk kejayaan Islam. Tidak mengherankan kalau kemudian Allah menyematkan gelar kepada mereka sebagai “ khairu ummatin ” atau umat terbaik Dan kalau kita menginginkan anak – anak kita menjadi pewaris mereka, yaitu sebagai penerus generasi rabbani , maka mau tidak mau kita memang harus mengacu pada pola didik yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Yaitu dengan memberikan keteladanan yang baik bagi anak – anak kita. Kita tunjukkan dan buktikan komitmen kita tehadap Islam pada mereka. Bahwa kita bukan orang yang hanya pintar bicara, tetapi juga komitmen dengan apa yang kita bicarakan dan yang kita yakini.

Dengan mengacu apa yang telah dilakukan Rasulullah SAW dalam mendidik putra – putri beliau serta para sahabat, insya Allah anak – anak kita memiliki kepribadian yang kokoh serta kepercayaan diri yang kuat, yang bersumber dari nilai – nilai Al Qur’an. Dengan demikian, perkembangan kepribadian mereka akan berjalan dengan selamat dan memiliki kekebalan Islami yang akan mampu bersikap kritis terhadap hal – hal buruk yang berpotensi menggelincirkan mereka dari prinsip – prinsip Islam.

Semoga dengan kasihsayang, bimbingan, dan keteladanan kita, mampu menjadikan mereka sebagai anak – anak sholeh yang akan eksis pada jamannya serta mempu menyumbangkan potensi mereka untuk kembali meraih kejayaan Islam sebagaimana yang telah diraih oleh para salafus shaleh terdahulu. Dan dengan iringan do’a kita, semoga akhirnya anak – anak kita menjadi investasi, yang akan mendo’akan kita ketika kita sudah menghadap-Nya. Bukankah do’a anak – anak sholeh untuk orangtuanya akan dikabulkan oleh Allah SWT ?

Wallahu a’lam bishowab.

Read more...

  © Blogger templates Newspaper II by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP